Kebiasaan Menggigit Kuku, Apa Dampaknya bagi Gigi?

Friday, 30 October 2026 - 14:20:09

Lagi fokus kerja, menunggu sesuatu, atau sedang gugup, tiba-tiba jari sudah berada di mulut dan kuku tergigit tanpa sadar. Kebiasaan ini terlihat sepele, bahkan mungkin sudah dilakukan sejak kecil.

Dalam istilah medis, kebiasaan menggigit kuku dikenal sebagai onychophagia. Menurut sebuah tinjauan ilmiah tentang onychophagia, kebiasaan ini termasuk body-focused repetitive behavior dan cukup umum terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa.

Tidak semua orang yang sesekali menggigit kuku akan mengalami masalah gigi. Namun, jika dilakukan berulang dalam jangka panjang, tekanan yang terus diberikan pada gigi dapat meningkatkan risiko beberapa masalah pada gigi maupun rahang.

Kenapa Menggigit Kuku Bisa Berpengaruh pada Gigi?

Gigi memang kuat, tetapi sebenarnya dirancang untuk menggigit dan mengunyah makanan, bukan terus-menerus memotong benda keras seperti kuku.

Saat menggigit kuku, terutama bagian yang cukup keras, gigi depan harus memberikan tekanan berulang pada area yang relatif kecil.

American Dental Association melalui MouthHealthy memasukkan menggigit kuku sebagai salah satu kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi. Tekanan berulang dari kebiasaan ini dapat menyebabkan bagian gigi mengalami chip atau terkelupas dan memberi beban tambahan pada rahang.

Dampaknya tentu berbeda pada setiap orang. Kondisi awal gigi, frekuensi menggigit kuku, kekuatan gigitan, serta adanya tambalan atau restorasi pada gigi dapat ikut mempengaruhi risiko.

Apakah Menggigit Kuku Bisa Membuat Gigi Retak?

Bisa meningkatkan resiko nya, tetapi bukan berarti setiap orang yang menggigit kuku pasti akan mengalami gigi retak.

Cleveland Clinic mencantumkan kebiasaan menggigit kuku sebagai salah satu aktivitas yang dapat menyebabkan gigi mengalami chipping. Kebiasaan menggigit benda keras lainnya, seperti es atau menggunakan gigi untuk membuka kemasan, juga dapat memberikan tekanan yang tidak diperlukan pada struktur gigi.

Kerusakan yang terjadi pun belum tentu langsung menimbulkan rasa sakit.

Kadang perubahan pertama yang terasa hanya bagian tepi gigi menjadi kasar saat disentuh lidah atau terlihat ada serpihan kecil yang hilang. Jika kerusakan lebih dalam, gigi bisa mulai terasa sensitif ketika terkena makanan atau minuman panas dan dingin.

Risiko juga perlu lebih diperhatikan jika gigi sebelumnya pernah mendapat restorasi. Cleveland Clinic mengenai dental bonding menyarankan menghindari menggigit kuku karena material bonding dapat mengalami chip jika sering menerima tekanan keras.

Rahang Juga Bisa Ikut Terbebani

Saat menggigit kuku, rahang sering berada dalam posisi agak maju sambil memberikan tekanan pada gigi depan.

Jika kebiasaan ini dilakukan berulang, otot dan sendi rahang dapat ikut menerima beban tambahan.

Menurut Mayo Clinic, gangguan temporomandibular atau TMD dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan kebiasaan seperti mengatupkan gigi, mengunyah permen karet, serta menggigit kuku termasuk faktor yang dapat berperan pada sebagian orang.

NIDCR juga menyarankan mengurangi kebiasaan seperti menggigit kuku, mengunyah permen karet, dan mengatupkan rahang ketika seseorang mengalami keluhan pada sendi atau otot rahang.

Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa rahang yang berbunyi atau terasa tidak nyaman pasti disebabkan oleh kebiasaan menggigit kuku. Penyebab TMD dapat kompleks dan keluhan serupa bisa muncul karena berbagai kondisi.

Bagaimana dengan Bakteri dari Kuku?

Tangan dan kuku bersentuhan dengan banyak permukaan sepanjang hari. Ketika kuku berulang kali masuk ke dalam mulut, mikroorganisme dari area tangan juga dapat ikut berpindah.

Sebuah review ilmiah mengenai komplikasi kebiasaan menggigit kuku melaporkan bahwa kebiasaan kronis ini dapat berkaitan dengan kerusakan pada kuku, masalah jaringan di sekitar kuku, serta sejumlah komplikasi pada rongga mulut.

Review lain mengenai onychophagia dan kesehatan mulut juga melaporkan bahwa orang yang memiliki kebiasaan menggigit kuku kronis dapat mengalami trauma pada jaringan gusi serta paparan bakteri oral yang berbeda.

Bukan berarti sekali menggigit kuku langsung menyebabkan infeksi. Risiko tetap dipengaruhi kondisi kuku, kebersihan tangan dan mulut, adanya luka, serta seberapa sering kebiasaan tersebut dilakukan.

Bagaimana Cara Mulai Mengurangi Kebiasaan Menggigit Kuku?

Langkah pertama adalah mengenali kapan kebiasaan tersebut paling sering muncul.

Sebagian orang menggigit kuku ketika stres, bosan, gugup, atau sedang berkonsentrasi. Mayo Clinic menjelaskan bahwa kebiasaan seperti menggigit kuku dapat muncul saat seseorang stres atau bosan, dan pada sebagian orang dapat berkembang menjadi perilaku yang sulit dikendalikan.

Untuk kebiasaan ringan, mulai dengan membuat kuku tetap pendek, menggunakan cat kuku dengan rasa pahit, atau membuat tangan tetap sibuk saat dorongan menggigit kuku muncul. ADA juga menyarankan mengenali pemicu, mengurangi stres, dan menetapkan target kecil untuk menghentikan kebiasaan secara bertahap.

Jika kebiasaan sulit dikendalikan sampai menyebabkan luka atau mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional juga dapat dipertimbangkan.


FAQ tentang Menggigit Kuku dan Kesehatan Gigi

Apakah menggigit kuku pasti merusak gigi?

Tidak. Namun, kebiasaan yang dilakukan berulang dapat memberikan tekanan tambahan pada gigi dan meningkatkan risiko keausan atau chipping.

Apakah menggigit kuku bisa membuat gigi depan retak?

Tekanan berulang pada gigi dapat berkontribusi terhadap chip atau retakan, terutama jika kondisi gigi sebelumnya sudah lebih rentan.

Kenapa gigi terasa kasar setelah sering menggigit kuku?

Tepi gigi mungkin mengalami keausan atau serpihan kecil. Pemeriksaan dapat membantu mengetahui seberapa jauh kondisinya dan apakah membutuhkan perawatan.

Kapan sakit rahang perlu diperiksa?

Jika nyeri terus berulang, rahang terasa kaku, sulit dibuka, atau mulai mengganggu makan dan aktivitas sehari-hari, sebaiknya dilakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya.


Mulai Ada Perubahan pada Gigi? Lebih Baik Diperiksa

Menggigit kuku mungkin terlihat seperti kebiasaan kecil, tetapi jika dilakukan terus-menerus, gigi dan rahang bisa ikut menerima tekanan.

Kalau tepi gigi mulai terasa kasar, ada bagian yang terlihat terkelupas, muncul sensitivitas, atau rahang sering terasa tidak nyaman, pemeriksaan dapat membantu mengetahui kondisi sebenarnya sebelum menentukan apakah ada perawatan yang diperlukan.

Rasa sakit, tingkat kenyamanan, kondisi gigi, hasil, serta kebutuhan perawatan dapat berbeda pada setiap pasien. Karena itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum merekomendasikan tindakan tertentu.

Di GiO Dental Care, kamu bisa melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi gigi dan mendiskusikan pilihan perawatan sesuai kebutuhan.

Untuk informasi lokasi cabang, jadwal dokter, atau reservasi pemeriksaan, hubungi tim Customer Service melalui WhatsApp Berikut.

 

 

Konsultasikan dengan

Ahli Kami yang Terpercaya

Admin GIO Dental siap membantu memilihkan atau menjelaskan semua keluhan dan masalah gigimu.

Lokasi Strategis

Dekat dengan Anda

Kami hadir di lokasi strategis untuk memastikan akses mudah ke perawatan gigi terbaik. Temukan cabang klinik kami terdekat dan nikmati layanan profesional untuk senyum sehat Anda.

  1. GiO Dental Care & Clinic BABARSARI
  2. GiO Dental Care & Clinic KALIURANG
  3. GiO Dental Care & Clinic GODEAN
  4. GiO Dental Care & Clinic SETURAN
  5. GiO Dental Care & Clinic AMBARUKMO
  6. GiO Dental Care & Clinic GEJAYAN
  7. GiO Dental Care & Clinic MONJALI
Yogyakarta (7)
Magelang (2)
Next
Semarang (1)
Jember (1)
Bali (3)